Rabu, 17 Januari 2018

ETIKA PROFESI DALAM TEKNOLOGI INFORMASI




MAKALAH
KECAKAPAN ANTAR PERSONAL
Etika Profesi dalam Teknologi Informasi

Dosen Pengampu:
Hesty Puspitasari, M.Pd






 



Oleh:
Adi Wahyu K             (14104410003)
Tyas Kusumo H          (14104410027)
Mega Sari                    (14104410035)


PRODI STUDI TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS ISLAM BALITAR
BLITAR
2017





KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkah, rahmat dan karunia-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Kecakapan Antar Personal  yang berjudul “Etika Profesi dalam Teknologi Informasi” ini tepat pada waktunya.
Kami menyadari bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari dorongan dan pengarahan dari berbagai pihak yang membantu kami dalam penyusunan laporan ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan laporan ini, diantaranya:
1.      Ibu Hesty Puspitasari, M.Pd selaku Dosen Mata Kuliah Kecakapan Antar Personal di Universitas Islam Balitar – Blitar
2.      Berbagai pihak lain, khususnya teman-teman kelas Teknik Informatika A Semester VI (angkatan 2014) di Universitas Islam Balitar - Blitar
Kami menyadari bahwa makalah ini belum dapat dikatakan sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca supaya makalah ini menjadi lebih baik dan memberikan manfaat.


Blitar 28 November 2017



Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Pendahuluan
      Teknologi, Informasi dan Komunikasi bisa menjadi pilar-pilar pembangunan nasional yang bisa mengadaptasi di setiap permasalahan bangsa sebagai contoh menyerap tenaga kerja baru, mencerdaskan kehidupan bangsa dan sebagai alat pemersatu bangsa. Dalam mengaplikasikan ilmunya ataut menjalankan profesi IT bukan mudah dan bukan tidak sukar, yang terpenting adalah kita mampu menempatkan diri pada posisis yang benar. Profesi IT dianggap orang lain adalah profesi khusus karena keahlian yang ia miliki maka dari itu kita bisa menentukan tapi dengan ikatan yang jelas.  Profesi IT juga bisa dianggap sebagai 2 mata pisau, bagaimana yang tajam bisa menjadikan IT lebih berguna untuk kemaslahatan umat dan mata lainya bisa menjadikan IT ini menjadi bencana sosial, bencana ekonomi maupun krisis kebudayaan yang saat ini sering terjadi yaitu Pembuatan website porno, seorang hacker melakukan pengacakan rekening sebuah bank dan melakukan kebohongan dengan content-content tertentu, dan lain-lain. Kita juga harus bisa menyikapi dengan keadaan teknologi, informasi dan komunikasi saat ini dengan arus besar data yang bisa kita dapat dengan hitungan per detik ataupun dengan kesederhanaan teknologi kita bisa melakukan pekerjaan kita menjadi praktis, tapi kita harus melakukan pembenahan terhadap teknologi sebagai inovasi untuk meringankan maupun memberantas resiko kejamnya teknologi itu sendiri. Dengan membangun semangat kemoralan dan sadar akan etika sebagai orang yang ahli di bidang IT . Tentu saja diharapkan etika profesi semakin dijunjung ketika jenjang pendidikan kita berlatar IT makin tinggi. Sedangkan keahlian dilapangan meningkat seiring banyaknya latihan dan pengalaman. Pada kesempatan saat ini, bagaimana kita bisa menegakan etika profesi seorang teknokrat(sebutan bagi orang yang bekerja di bidang IT) dan bagaimana kita bisa menjadi seorang teknokrat yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Kita harus bisa memberikan inovasi-inovasi pemikiran, gagasan produktif dan aksi nyata untuk perkembangan IT kedepan . Bukan tak mungkin IT akan menjadi hal yang sistematis dalam perkembanagan bangsa kedepan dalam memajukan kegidupan berbangsa maupun bernegara.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Etika Profesi
Etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimilki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.Etika merupakan sebuah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.
Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dijelaskan bahwa etika profesi dalah keterampilan seseorang dalam suatu pekerjaan utama yang diperoleh dari jalur pendidikan atau pengalaman dan dilaksanakan secara kontinu yang merupakan sumber utama untuk mencari nafkah.
Etika profesi adalah sikap hidup berupa keadilan untuk memberikan pelayanan profesional terhadap masyarakat dengan ketertiban penuh dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan tugas berupa kewajiban terhadap masyarakat. (Suhrawardi Lubis, 1994: 6-7)

B.  Tujuan
Dalam kehidupan sehari-hari, Etika sangat penting untuk di terapkan untuk menciptakan nilai moral yang baik. Beberapa orang mengartikan bahwa etika hanyalah sebagai konsep untuk dipahami dan bukan menjadi bagian dari diri kita. Namun sebenarnya etika harus benar-benar dimiliki dan diterapkan oleh diri kita masing-masing, sebagai modal utama moralitas kita pada kehidupan yang menuntut kita berbuat baik. Etika yang baik, mencerminkan perilaku yang baik, sedangkan etika yang buruk , mencerminkan perilaku kita yang buruk pula. Selain itu etika dapat membuat kita menjadi lebih tanggung jawab, adil dan responsif. Beberapa contoh Tujuan kita menerapkan atau mempelajari etika itu sendiri ialah :
1.      Untuk mendapatkan konsep yang sama mengenai penilaian baik dan buruknya perilaku atau tindakan manusia dalam ruang dan waktu tertentu.
2.      Mengarahkan perkembangan masyarakat menuju suasana yang harmonis, tertib, teratur, damai dan sejahtera.
3.      Mengajak orang bersikap kritis dan rasional dalam mengambil keputusan secara otonom.
4.      Etika merupakan sarana yang memberi orientasi pada hidup manusia.
5.      Untuk memiliki kedalaman sikap; untuk memiliki kemandirian dan tanggung jawab terhadap hidupnya.
6.      Mengantar manusia pada bagaimana menjadi baik.

C.  Kode Etik
Dalam lingkup TI, kode etik profesinya memuat kajian ilmiah mengenai prinsip atau norma-norma dalam kaitan dengan hubungan antara professional atau developer TI dengan klien, antara para professional sendiri, antara organisasi profesi serta organisasi profesi dengan pemerintah. Salah satu bentuk hubungan seorang profesional dengan klien (pengguna jasa) misalnya pembuatan sebuah program aplikasi.

Seorang profesional tidak dapat membuat program semaunya, ada beberapa hal yang harus ia perhatikan seperti untuk apa program tersebut nantinya digunakan oleh kliennya atau user dapat menjamin keamanan (security) sistem kerja program aplikasi tersebut dari pihak-pihak yang dapat mengacaukan sistem kerjanya (misalnya: hacker, cracker, dll).

D.  PELANGGARAN ETIKA PROFESI DI BIDANG IT
1)      Kejahatan Komputer
Kejahatan komputer atau computer crime adalah kejahatan yang ditimbulkan karena penggunaan komputer secara ilegal. Kejahatan komputer terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi komputer saat ini. Beberapa jenis kejahatan komputer meliputi Denial of Services (melumpuhkan layanan sebuah sistem komputer), penyebaran, spamcarding (pencurian melalui internet) dan lain-lain.
2)      Netiket
Netiket merupakan aspek penting dalam perkembangan teknologi komputer. Internet merupakan sebuah jaringan yang menghubungkan komputer di dunia sehingga komputer dapat mengakses satu sama lain. Internet menjadi peluang baru dalam perkembangan Bisnis, Pendidikan, Kesehatan, layanan pemerintah dan bidang-bidang lainnya. Melalui internet, interaksi manusia dapat dilakukan tanpa harus bertatap muka. Tingginya tingkat pemakaian internet di dunia melahirkan sebuah aturan baru di bidang internet yaitu netiket. Netiket merupakan sebuah etika acuan dalam berkomunikasi menggunakan internet. Standar netiket ditetapkan oleh IETF (The Internet Engineering Task Force), sebuah komunitas internasional yang terdiri dari operator, perancang jaringan dan peneliti yang terkait dengan pengoperasian internet.
3)      E-commerce
Berkembangnya penggunaan internet di dunia berpengaruh terhadap kondisi Ekonomi dan perdagangan negara. Melalui internet, transaksi perdagangan dapat dilakukan dengan cepat dan efisien. Akan tetapi, perdagangan melalui internet atau yang lebih dikenal dengan e-commerce ini menghasilkan permasalahan baru seperti perlindungan konsumen, permasalahan kontrak transaksi, masalah pajak dan kasus-kasus pemalsuan tanda tangan digital. Untuk menangani permasalahan tersebut, para penjual dan pembeli menggunakan Uncitral Model Law on Electronic Commerce 1996 sebagai acuan dalam melakukan transaksi lewat internet.
4)      Pelanggaran HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual)
Berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh internet menyebabkan terjadinya pelanggaran HAKI seperti pembajakan program komputer, penjualan program ilegal dan pengunduhan ilegal.

E.  Etika dan Teknologi
Etika disebut juga filsafat moral yang berbicara tentang tindakan manusia. lalu apa kaitan etika dengan teknologi informasi, di zaman yang serba canggih ini banyak komunitas atau kelompok yang menggunakan teknologi informasi untuk mempermudah segala urusan baik dari segi komunikasi atau dari segi bisnis, seperti contoh jejaring sosial maupun aplikasi –aplikasi perusahaan.
Dengan adanya teknologi seperti ini membuat manusia bisa berinteraksi dengan siapa saja melalui dunia maya tanpa harus mengeluarkan biaya dan waktu yang lama, dan dengan adanya teknologi website manusia bisa melihat dan menggali informasi dari seluruh penjuru dunia, dengan kata lain tidak ada informasi yang dapat katakan rahasia.
Atas dasar itulah diperlunya etika yang bisa mengatur segala yang berhubungan dengan teknologi informasi, dengan adanya etika teknologi informasi manusia dapat melihat aturan – aturan yang tidak mutlak namun dapat diemban sebagai pedoman bagi pekerja teknologi informasi.

F.   CyberCrime adalah bentuk kejahatan baru yang menggunakan internet sebagai media untuk melakukan tindak kejahatan engan munculnya era internet. Setiap aktifitas kejahatan yang dilakukan di internet atau melalui jaringan internet, umumnya disebut sebagai kejahatan internet.Jenis dan pelanggaran cyber crime sangat beragam sebagai akibat dari penerapan teknologi. Cyber crime dapat berupa penyadapan dan penyalahgunaan informasi atau data yang berbentuk elektronik maupun yang ditransfer secara elektronik, pencurian data elektronik, pornografi, penyalahgunaan anak sebagai objek melawan hukun, penipuan memalui internet, perjudian diinternet, pengrusakan website, disamping pengrusakkan system melalui virus, Trojan horse, signal grounding dan lain lain.

G. Undang undangyang mengatur tentang cybercrime
1)      Undang-Undang No 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi Menurut Pasal 1 angka (1) Undang – Undang No 36 Tahun 1999, Telekomunikasi adalah setiap pemancaran, pengiriman, dan/atau penerimaan dan setiap informasi dalam bentuk tanda-tanda, isyarat, tulisan, gambar, suara, dan bunyi melalui sistem kawat, optik, radio, atau sistem elektromagnetik lainnya.
2)      Undang-Undang No 8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan Undang-Undang No. 8 Tahun 1997 tanggal 24 Maret 1997 tentang Dokumen Perusahaan, pemerintah berusaha untuk mengatur pengakuan atas mikrofilm dan media lainnya (alat penyimpan informasi yang bukan kertas dan mempunyai tingkat pengamanan yang dapat menjamin keaslian dokumen yang dialihkan atau ditransformasikan. Misalnya Compact Disk – Read Only Memory (CD – ROM), dan Write – Once -Read – Many (WORM), yang diatur dalam Pasal 12 Undang-Undang tersebut sebagai alat bukti yang sah.
3)      Undang-Undang No 25 Tahun 2003 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang Jenis tindak pidana yang termasuk dalam pencucian uang (Pasal 2 Ayat (1) Huruf q). Penyidik dapat meminta kepada bank yang menerima transfer untuk memberikan identitas dan data perbankan yang dimiliki oleh tersangka tanpa harus mengikuti peraturan sesuai dengan yang diatur dalam Undang-Undang Perbankan.
4)      Undang-Undang No 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Undang-Undang ini mengatur mengenai alat bukti elektronik sesuai dengan Pasal 27 huruf b yaitu alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu. Digital evidence atau alat bukti elektronik sangatlah berperan dalam penyelidikan kasus terorisme. karena saat ini komunikasi antara para pelaku di lapangan dengan pimpinan atau aktor intelektualnya dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas di Internet untuk menerima perintah atau menyampaikan kondisi di lapangan karena para pelaku mengetahui pelacakan terhadap Internet lebih sulit dibandingkan pelacakan melalui handphone. Fasilitas yang sering digunakan adalah e-mail dan chat room selain mencari informasi dengan menggunakan search engine serta melakukan propaganda melalui bulletin board atau mailing list. 
5)      UU HAKI (Undang-undang Hak Cipta) yang sudah disahkan dengan nomor 19 tahun 2002 yang diberlakukan mulai tanggal 29 Juli 2003 didalamnya diantaranya mengatur tentang hak cipta.
6)      UU ITE (Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik) yang sudah disahkan dengan nomor 11 tahun 2008 yang didalamnya mengatur tentang:
a)      Pornografi di Internet
b)      Transaksi di Internet
c)      Etika pengguna Internet



BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Meskipun telah diatur dalam perundang-undangan tentang pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi namun pada kenyataannya di Indonesia masih terdapat pelanggaran dalam bidang tersebut. Oleh karena itu diperlukan adanya kesadaran oleh tiap individu yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi juga kontrol sosial terhadap pengguna lain yang disertai penegakan hukum yang tegas memberantas tidak pelanggaran-pelanggaran Teknologi Informasi dan Komunikasi. Sehingga terbentuk suatu kesadaran sosial masyarakat akan pentingnya pengendalian terhadap pengguna teknologi informasi dan komunikasi yang sesungguhnya sangat bermanfaat bila dimanfaatkan dengan tepat
B.     SARAN
1.                   Dalam pelaksanaan penegakan hukum di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi pemerintah hendaknya lebih tegas untuk menindak perilaku kejahatan sehingga efek jera yang dapat mengurangi atau memberantas tidak pelanggaran tidak pelanggaran penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.

2.                   Kita sebagai pengguna Teknologi Informasi selayaknya mematuhi dan ikut mengawasi pengguna lain agar tercipta kesadaran akan etika dalam penggunaan teknologi informasi.

KERJASAMA TIM


MAKALAH
KERJASAMA TIM
KECAKAPAN ANTAR PERSONAL 





Kelompok V:
Merli Tri Sastika 14104410016
Muhammad Fandi         14104410019
Mutoha Nuke Abdianto 14104410030







PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS ISLAM BALITAR
2017

A.  Pengertian Tim
Menurut Burn (2004) istilah tim didefinisikan sebagai sebuah kelompok kerja yang terdiri dari beberapa orang dengan kompetensi yang setara, dimana mereka bekerja secara interdependen/ketergantungan dalam melaksanakan pekerjaan di satu organisasi. Hare (dalam Burn 2004) menyebutkan bahwa sesama tim adalah kelompok, tetapi tidak semua kelompok dapat dikategorikan sebagai tim. Di sini, istilah tim merujuk pada kelompok kerja yang terdiri dari beberapa individu yang memandang diri mereka, dan dipandang oleh lingkungan kerjanya, sebagai sebuah kesatuan sosial.
Menurut Snow (1992), Johnson dan Johnson (2000) dan Cummings dan Worley (2001), tim (team) adalah satu set interaksi interpersonal yang terstruktur untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. Tim terdiri dari dua orang atau lebih individu yang (a) menyadari adanya interdependensi yang positif dalam mencapai sasaran bersama, (b) saling berinteraksi, (c) menyadari siapa saja yang menjadi anggota dan bukan anggota tim, (d) memiliki peran atau fungsi spesifik dalam menampilkan performa, dan (e) memiliki masa keanggotaan yang terbatas.
Jadi dapat disimpulkan bahwa tim adalah suatu unit yang terdiri atas dua orang atau lebih yang berinteraksi dan mengkoordinasi kerja mereka untuk tujuan tertentu. Definisi ini memiliki tiga komponen. Pertama, dibutuhkan dua orang atau lebih. Kedua, orang – orang dalam sebuah tim memiliki interaksi regular. Ketiga, orang – orang dalam sebuah tim memiliki tujuan kinerja yang sama.

B. Kunci kerja dalam tim
Untuk membangun kerjasama yang baik, perlu sekali untuk melakukan hal-hal ini dalam tim sebagai berikut:
1. Fokus pada target atau tujuan tim
Untuk bisa mencapai tujuan atau target tim, kesampingkan terlebih dahulu keinginan pribadi agar bisa fokus pada tujuan yang diinginkan bersama. Jika hanya mengikuti keinginan sendiri, maka kerjasama dengan tim hanya akan menjadi angan-angan belaka. Akan ada perbedaan tujuan yang terjadi dalam tim sehingga tujuan menjadi lambat untuk tercapai atau bahkan gagal.

2. Bagi tugas masing-masing anggota tim
Hal pertama yang harus diketahui oleh setiap tim adalah tujuan kerjasama, lalu pembagian kerja masing-masing tim. Hal ini penting sekali karena bisa mendorong anggota tim untuk bekerja lebih produktif, efisien dan sesuai target. Sementara pemimpin tim bekerja untuk terus mengevaluasi dan mendukung kerja tim secara berkelanjutan.
3. Membangun kekompakan tim
Kerja dalam tim ibarat seorang Even Organizer yang membutuhkan orang lain dalam mengerjakan hal-hal yang penting untuk menunjang kesuksesan sebuah acara. Ada penanggung jawab dan ada pula anggota yang memiliki keahlian dibidangnya masing-masing. Penanggung jawab menjadi seseorang yang dibutuhkan untuk terus mendorong seluruh tim, mengingatkan untk saling berkomunikasi dan membangun kekompakan satu dengan yang lain. Sehingga tidak ada gesekan atau perpecahan yang terjadi.
4. Bangun kepercayaan antar anggota tim
Bangunlah kepercayaan antar anggota tim dengan menetapkan nilai-nilai yang harus dijalankan. Hal ini akan menjadi patokan bagi setiap anggota tim untuk bisa saling membangun kepercayaan yang satu dengan yang lain. Menepati janji untuk menyerahkan hasil kerja kepada anggota tim lain yang membutuhkan merupakan sikap unggul yang sangat membangun kerjasama dan juga kepercayaan satu dengan yang lain.
5. Sediakan waktu untuk rileks
Meskipun target yang harus dicapai tim begitu besar dan dibutuhkan kerja keras ekstra, namun bukan berarti anggota tim tidak bisa menikmati kebersamaan, meski hanya sekedar makan bersama, nongkrong, bercanda atau berbagi bersama tentang hal-hal di luar pekerjaan. Sebab hal itu bisa menjadi relaksasi sejenak untuk membangkitkan kembali semangat dan fitalitas yang baru sekaligus mempererat hubungan antar anggota tim.
6. Sama-sama mencari solusi untuk sebuah masalah
Salah satu kegagalan dalam kerjasama tim adalah saat tim tidak dapat menyelesaikan sebuah masalah bersama-sama, saling menyalahkan dan saling bermusuhan. Hal itu tentu saja menjadi penghambat bagi tim untuk mencapai tujuannya. Adalah bijak bila setiap persoalan yang muncul dalam sebuah tim bisa ditanggapi dengan bijaksana dan sama-sama bersepakat mencari solusi yang tepat. Misalnya, berdoa, saling menguatkan dan mencari jalan tengah yang meski berisiko namun sepakat untuk menganggungnya bersama-sama.
Hal terpenting yang menunjang kesuksesan kerjasama dalam tim adalah kesatuan untuk meraih tujuan bersama dan dukungan satu dengan yang lain.
C. Hambatan bekerja dalam tim
1. Hambatan pertama bagi kerja tim adalah resistansi individual; individu mengadopsi pola pikir yang menghambat kemampuannya bekerja sama. Orang yang demikian perlu mengubah definisinya tentang apa itu sukses bahwa sukses itu bukan lagi perkara kemenangan sendiri, melainkan keberhasilan bersama, sehingga dapat lebih menghargai kerja tim.
2. Hambatan kedua adalah rendahnya keterampilan sosial. Untuk bekerja dalam tim secara efektif, invidu perlu memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara terbuka dan jujur, mampu menghadapi perbedaan dan menyelesaikan konflik, dan mengendalikan ego pribadi, mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan individual. Bagi banyak orang, kemampuan ini sulit dicapai, tetapi dapat diajarkan dan dilatihkan.
3. Hambatan ketiga adalah kebiasaan di lingkungan. Jika sistem dalam organisasi masih lebih menghargai prestasi individual ketimbang prestasi kolektif, orang tentu akan memilih menjaga persaingan ketimbang melakukan kerja sama. Namun demikian, sistem kerja semacam ini dapat diperbaiki dengan mengubah sistem penghargaan, evaluasi, dan pemberian hadiah.


D. Sukses bekerja dalam tim
Berikut adalah cara-cara sukses bekerja dalam tim:
1. Hindari konflik
Berada dalam satu tim, artinya Anda harus menyatukan beberapa kepala sekaligus. Maka tak jarang perbedaan pendapat dan konflik dalam tim mungkin terjadi.Cara menghindari konflik adalah menjadi orang yang bisa mendengarkan pendapat orang lain dan mencari cara untuk menyatukan pendapat tersebut.Jangan menjadi orang yang mau menang sendiri dan egois. Dalam tim, Anda harus bisa menyatukan beragam pendapat yang berbeda.

2. Saling mendukung
Dukungan dalam tim perlu dilakukan agar masing-masing anggota dapat bekerja dengan maksimal. Dorong rekan kerja yang memiliki ide bagus dan hargai setiap masukan dari mereka.Ketika Anda bisa menunjukkan kemampuan untuk memotivasi rekan kerja yang lain, Anda akan diperhatikan tak hanya oleh kolega tapi juga oleh atasan.Tidak perlu iri dengan rekan kerja yang lain, karena yang dinilai adalah kemampuan untuk bekerja sama dan tentu saja hasil kerja tim secara keseluruhan.

3. Kebiasaan kerja yang baik
Miliki kebiasaan kerja yang baik, seperti tepat waktu, menyelesaikan pekerjaan sesuai tenggat waktu, dan tidak bersikap curang.Dengan begitu, Anda pun akan dihormati oleh rekan kerja dan jika ada proyek lainnya mereka tidak akan segan bekerja sama dengan Anda lagi.

4. Jadi pemecah masalah
Saat tim Anda menghadapi masalah, jadilah pemecah masalah dan pemberi solusi dalam tim ketimbang jadi orang yang mundur saat masalah datang. Jangan pula menjadi orang yang menyalahkan rekan kerja lain jika menemukan masalah. Tak ada salahnya mencari bantuan ke anggota tim lain atau pergi ke tim lain untuk mendapatkan keahlian serta pengetahuan jika diperlukan. Dengan melakukan itu, Anda akan dilihat sebagai pekerja yang tidak mudah menyerah dan tahu bagaimana menyelesaikan sesuatu.
E. Team Work
Team work bisa diartikan sebagai kerja tim atau kerjasama, team work atau kerja sama tim merupakan bentuk kerja kelompok dengan keterampilan yang saling melengkapi serta berkomitmen untuk mencapai  misi yang sudah disepakati sebelumnya untuk mencapai tujuan bersama secara efektif dan efisien. Harus disadari bahwa teamwork merupakan peleburan berbagai pribadi yang menjadi satu pribadi untuk mencapai tujuan bersama.Sebuah tim itu sangat memebutuhkan kemauan untuk saling bergandengan-tangan menyelesaikan pekerjaan. Bisa jadi satu orang tidak menyelesaikan pekerjaan atau tidak ahli dalam pekerjaan A, namun dapat dikerjakan oleh anggota tim lainnya. Inilah yang dimaksudkan dengan kerja tim, beban dibagi untuk satu tujuan bersama serta saling melengkapi antar sesama.
Saling mengerti dan mendukung satu sama lain merupakan kunci kesuksesan dari teamwork. Jangan pernah mengabaikan pengertian dan dukungan ini. Meskipunsering terjadi perbedaan pemahaman serta perselisihan antar pribadi, namun dalam tim harus segera menyingkirkannya terlebih dahulu. Bila tidak kehidupan dalam tim jelas akan terganggu, bahkan dalam satu tim bisa jadi berasal dari latar belakang divisi yang berbeda yang terkadang menyimpan pula perselisihan. Oleh karena itusangatlah  penting untuk menjunjung tinggi kesadaran akan kebersamaan sebagai anggota tim di atas segalanya.
Sementara untuk membentuk dan membangun team work yang solid, tentu tidak semudah kita membalikan telapak tangan, team work yang solid akan menciptakan hasil yang maksimal dalam suatu tim tersebut.
F. Studi Kasus
Dalam sebuah mata kuliah, dosen memberikan tugas untuk dikerjakan berkelompok. Tiap-tiap kelompok terdiri dari 3 (tiga) orang. Disini kelompok kami beranggotakan Fandi, Merli, dan Mutoha dan tugas harus dipresentasikan minggu depan.
Kemudian dua hari berikutnya, kelompok kami bermusyawarah untuk menentukan tugas masing-masing dan dikumpukkan 3 (tiga) hari setelahnya. Pada waktu hari dikumpulkannya bahan-bahan presentasi, salah satu dari kami yaitu Mutoha tidak mengumpulkan tugasnya dengan alasan sibuk. Lantas Fandi dan Merli menegaskan kepada Mutoha bahwa sibuk bukanlah alasan untuk tidak mengerjakan tugas yang telah diberikan, karena pada kenyataannya setiap orang pasti punya kesibukan dan waktu luangnya sendiri-sendiri dan seharusnya jika sudah diberikan amanat dan tanggungjawab untuk mengerjakan tugas harus punya komitmen pada diri sendiri untuk bisa menyelesaikan tugasnya. Setelah itu, kelompok kami bermusyawarah lagi hukuman apa yang sebaiknya diberikan kepada Mutoha karena dia tidak mengerjakan tugasnya.
Setelah melakukan musyawarah, akhirnya mereka sepakat bahwa hukuman yang pantas diberikan kepada Mutoha sebagai ganti dari tugasnya yang tidak dikerjakan adalah tetap melanjutkan tugasnya dan ditambah menyusun bahan-bahan presentasi menjadi satu untuk persiapan presentasi dalam waktu satu hari saja.






DAFTAR PUSTAKA

Atih, Ani. “MAKALAH TIM”. 21 November 2017. http://aniatih.blogspot.co.id/2015/03/makalah-tim.html
Mora, Lori. “5 Kunci Membangun Kerjasama Dalam Tim”. 21 November 2017. https://www.jawaban.com/read/article/id/2015/10/21/82/151021111636/5_kunci_membangun_kerjasama_dalam_tim
Wulandari, Andhina. “4 Cara Agar Sukses Bekerja di Dalam Tim”. 21 November 2017. http://lifestyle.bisnis.com/read/20160205/219/516497/4-cara-agar-sukses-bekerja-di-dalam-tim
Goodsekolah, “PENGERTIAN TEAM WORK ( KERJA SAMA TEAM )”. 21 November 2017. http://goodsekolah.blogspot.co.id/2016/08/pengertian-team-work-kerja-sama-team.html

KOMUNIKASI




MAKALAH
KECAKAPAN ANTAR PERSONAL
“KOMUNIKASI”

Dosen Pengampu:
Hesty Puspitasari, M.Pd







Oleh:
M. Nafek Nurhadi      (14104410018)
M. Khoirul Anas         (14104410020)
Ranton Sasmito           (14104410024)


PRODI STUDI TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS ISLAM BALITAR
BLITAR
2017



KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkah, rahmat dan karunia-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Kecakapan Antar Personal  yang berjudul “Komunikasi” ini tepat pada waktunya.
Kami menyadari bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari dorongan dan pengarahan dari berbagai pihak yang membantu kami dalam penyusunan laporan ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan laporan ini, diantaranya:
1.      Ibu Hesty Puspitasari, M.Pd selaku Dosen Mata Kuliah Kecakapan Antar Personal di Universitas Islam Balitar – Blitar
2.      Berbagai pihak lain, khususnya teman-teman kelas Teknik Informatika A Semester VI (angkatan 2014) di Universitas Islam Balitar - Blitar
Kami menyadari bahwa makalah ini belum dapat dikatakan sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca supaya makalah ini menjadi lebih baik dan memberikan manfaat.


Blitar, 15 November 2017



Penyusun






BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Komunikasi merupakan aktifitas manusia yang sangat penting. Bukan hanya dalam kehidupan organisasi, namun dalam kehidupan manusia secara umum. Komunikasi merupakan hal yang esensial dalam kehidupan kita. Kita semua berinteraksi dengan sesama dengan cara melakukan komunikasi. Komunikasi dapat dilakukan dengan cara yang sederhana sampai yang kompleks, dan teknologi kini telah merubah cara manusia berkomunikasi secara drastis.
Komunikasi tidak terbatas pada kata-kata yang terucap belaka, melainkan bentuk dari apa saja interaksi, senyuman, anggukan kepala yang membenarkan hati, sikap badan, ungkapan minat, sikap dan perasaan yang sama. Diterimanya pengertian yang sama adalah merupakan kunci dalam komunikasi. Tanpa penerimaan sesuatu dengan pengertian yang sama, maka yang terjadi adalah “dialog  antara orang satu”.
Komunikasi juga dikatakan sebagai inti dari kepemimpinan. Kepemimpinan yang efektif dapat dicapai melalui proses komunikasi yang dilakukan oleh pemimpin kepada anggotanya. Visi pemimpin bisa saja bagus, namun tanpa komunikasi yang efektif, maka visi tersebut tidak akan pernah bisa terwujud. Dalam mengkomunikasikan visi, maka pemimpin harus bisa menyampaikan suatu gambaran di masa depan yang mendorong antusiasme serta komitmen orang lain.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah, sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan komunikasi?
2. Bagaimana pola dan proses terjadinya komunikasi?
3. Apa saja saluran komunikasi?
4. Apa saja hambatan dalam komunikasi?
5. Bagaimana cara meningkatkan efektivitas komunikasi?

1.3 Tujuan
Adapun beberapa tujuan yang hendak dicapai dengan adanya makalah ini adalah, sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian dari komunikasi.
2. Mengetahui pola dan proses terjadinya komunikasi.
3. Mengetahui bermacam-macam saluran komunikasi.
4. Mengetahui bermacam-macam hambatan dalam komunikasi.
5. Mengetahui cara meningkatkan efektivitas komunikasi.
















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Komunikasi
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Komunikasi adalah "suatu proses di mana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat menciptakan, dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain". Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi dengan bahasa nonverbal.
Komunikasi atau communicaton berasal dari bahasa Latin communis yang berarti 'sama'. Communico, communicatio atau communicare yang berarti membuat sama (make to common). Secara sederhana komunikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampaian pesan dan orang yang menerima pesan. Oleh sebab itu, komunikasi bergantung pada kemampuan kita untuk dapat memahami satu dengan yang lainnya (communication depends on our ability to understand one another).
Manusia berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman. Bentuk umum komunikasi manusia termasuk bahasa sinyal, bicara, tulisan, gerakan, dan penyiaran. Komunikasi dapat berupa interaktif, komunikasi transaktif, komunikasi bertujuan, atau komunikasi tak bertujuan.
Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.
2.1.1 Komponen Komunikasi
Komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar komunikasi bisa berlangsung dengan baik. Menurut Laswell komponen-komponen komunikasi adalah:
Pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain.
Pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain.
Saluran (channel) adalah media di mana pesan disampaikan kepada komunikan. dalam komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getaran nada/suara.
Penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain.
Umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya.
Aturan yang disepakati para pelaku komunikasi tentang bagaimana komunikasi itu akan dijalankan.
2.1.2 Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi
Faktor yang mempengaruhi komunikasi diantaranya  adalah:
Latar Belakang Budaya
Interpretasi suatu pesan akan terbentuk dari pola pikir seseorang melalui kebiasaannya, sehingga semakin sama latar belakang budaya antara komunikator dengan komunikan maka komunikasi semakin efektif.
Ikatan Kelompok atau Grup
Nilai-nilai yang dianut oleh suatu kelompok sangat mempengaruhi cara mengamati pesan.
Harapan
Harapan mempengaruhi penerimaan pesan sehingga dapat menerima pesan sesuai dengan yang diharapkan.
Pendidikan
Semakin tinggi pendidikan akan semakin kompleks sudut pandang dalam menyikapi isi pesan yang disampaikan.
Situasi
Perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan/situasi.
2.2 Pola dan Proses Komunikasi
2.2.1 Pola Komunikasi
Menurut Rakhmat (2001 : 162-163), terdapat 5 (lima) pola komunikasi yaitu roda (wheel), rantai (chain), Y, lingkaran (circle), dan bintang (star atau networks).
Roda
Merupakan pola komunikasi yang dianggap yang terbaik dibandingkan dengan pola komunikasi lainnya. Fokus perhatian dari pola ini adalah seseorang (pemimpin). Apakah pemimpin tersebut dapat berhubungan dengan semua anggota kelompok, dan tidak ada masalah komunikasi, waktu dan feedback dari anggota kelompok.
Tetapi, setiap anggota kelompok hanya dapat berhubungan dengan pemimpinnya. Pola komunikasi ini menghasilkan produk kelompok yang tercepat dan terorganisasi.
Lingkaran
Pada pola ini, pengirim atau pemimpin dapat berkomunikasi dengan anggota kelompok yang lain yang berada dekat dengannya. Tidak ada anggota kelompok lain yang tidak dapat menerima pesan secara langsung dan mereka menerima pesan dari anggota kelompok yang lain yang membagi pesan dari pengirim.
Dalam pola ini, pesan dari pengirim berjalan ke seluruh anggota kelompok dan membutuhkan waktu yang lama untuk sampai kembali kepada pengirim. Setiap orang hanya dapat berkomunikasi dengan dua orang yaitu di samping kiri dan kanannya. Di sini tidak ada pemimpin. Pola komunikasi lingkaran merupakan pola yang paling lambat dalam memecahkan masalah. Pola komunikasi lingkaran juga cenderung melahirkan banyak kesalahan.
Rantai
Merupakan pola komunikasi yang memiliki permasalahan yang sama dengan pola komunikasi lingkaran. Dalam pola komunikasi rantai, anggota terakhir yang menerima pesan yang disampaikan oleh pemimpin seringkali tidak menerima pesan yang akurat. Sehingga, pemimpin tidak dapat mengetahui hal tersebut karena tidak adanya umpan balik yang disampaikan.
Y
Merupakan pola komunikasi yang sangat rumit dan juga memiliki masalah komunikasi yang sama seperti yang terjadi dalam pola komunikasi lingkaran dan rantai. Tiga orang anggota dapat berhubungan dengan orang di sampingnya seperti pada pola rantai, tetapi ada dua orang yang hanya dapat berkomunikasi dengan seseorang di sampingnya saja.
Bintang
Semua saluran dari setiap anggota dapat berkomunikasi dengan semua anggota kelompok yang lain. Pada pola, semua saluran tidak terpusat pada satu orang pemimpin. Pola ini juga paling memberikan kepuasan kepada anggota-anggotanya, dan yang paling cepat menyelesaikan tugas bila tugas berkenaan dengan masalah yang sukar.
2.2.2 Proses Komunikasi
Secara ringkas, proses berlangsungnya komunikasi bisa digambarkan seperti berikut.
Komunikator (sender) yang mempunyai maksud berkomunikasi dengan orang lain mengirimkan suatu pesan kepada orang yang dimaksud. Pesan yang disampaikan itu bisa berupa informasi dalam bentuk bahasa ataupun lewat simbol-simbol yang bisa dimengerti kedua pihak.
Pesan (message) itu disampaikan atau dibawa melalui suatu media atau saluran baik secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya berbicara langsung melalui telepon, surat, e-mail, atau media lainnya.
Media (channel) alat atau perantara yang menjadi penyampai pesan dari komunikator ke komunikan.
Komunikan (receiver) menerima pesan yang disampaikan dan menerjemahkan isi pesan yang diterimanya ke dalam bahasa yang dimengerti oleh komunikan itu sendiri.
Komunikan (receiver) memberikan umpan balik (feedback) atau tanggapan atas pesan yang dikirimkan kepadanya, apakah dia mengerti atau memahami pesan yang dimaksud oleh si pengirim.
2.3 Saluran Komunikasi
Pendapat Rogers (1983), menyatakan bahwa saluran komunikasi adalah alat atau media yang dapat dimanfaatkan oleh individu-individu atau kelompok serta organisasi yang berkomunikasi untuk menyampaikan pesan-pesan (messages) mereka.
Secara konseptual, dikenal adanya tiga macam saluran atau media komunikasi, yaitu: saluran antar pribadi (inter-personal), media massa (mass media), dan forum media yang dimaksudkan untuk menggabungkan keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh saluran antar pribadi dan media masa.
2.3.1 Saluran Antar Pribadi
Media antar pribadi (inter perssonal), adalah media yang memungkinkan para pihak yang berkomunikasi dapat berkomunikasi secara langsung, baik dengan tatap muka (ex: percakapan antar individu, diskusi dalam kelompok kecil, pertemuan di dalam maupun di luar ruangan), atau menggunakan alat (ex: melalui telepon, chating lewat internet, dan menggunakan teleconference).
Lionberger dan Gwin (1982), mengemukakan dua ciri yang harus diperhatikan dalam penerapan saluran antar pribadi, yaitu:
a. Saluran antar pribadi sebenarnya merupakan saluran ganda (multi channels), di dalam berkomunikasi tatap muka memperhatikan bahasa yang digunakan, serta menyangkut ekspresi raut muka, pakaian yang dikenakan, tingkat kelantangan suara, waktu dan tempat yang tepat untuk berkomunikasi.
b. Saluran antar pribadi sering menghadapi hambatan (barrier) yang berupa: kesenjangan budaya, generalisasi yang salah, serta perilaku yang mencurigakan.
2.3.2 Saluran Media Masa
Saluran media masa adalah segala bentuk media masa (media cetak, media elektronik, dan multi media) yang dapat digunakan oleh pihak-pihak yang berkomunikasi untuk menyampaikan pesan-pesan mereka.
Yang termasuk dalam media cetak adalah surat kabar, tabloid, majalah, jurnal ilmiah, poster, leaflet, folder, serta brosur. Media elektronik dapat berbentuk audio suara (ex: radio, pita rekaman atau tipe recorder dan CD/compact disc), atau audio visual (ex: film, TV,VCD). Serta multi media merupakan segala bentuk produk media (cetak dan audio visual) yang digabungkan dalam satu peket media komunikasi.
Media masa biasanya lebih efektif dan lebih murah untuk mengenalkan inovasi pada tahap-tahap penyadaran dan menumbuhkan minat, tetapi saluran/media ini memiliki kelemahan-kelemahan yang mencakup:
a. Pesan yang disampaikan sering kurang jujur,
b. Bahasa dan kalimat (istilah) yang digunakan seringkali kurang akrab dengan masyarakat penerima manfaatnya,
c. Isi pesan sering kurang memperhatikan kebutuhan pembangunan masyarakat,
d. Isi pesan sering kali terlalu berorientasi kepada masalah-masalah teknis,
e. Isi pesan kurang memperhatikan sistem nilai yang berlaku di dalam masyarakat.
2.3.3 Forum Media
Forum media adalah saluran komunikasi yang berupa sekelompok kecil orang yang dapat saling tatap muka untuk berkomunikasi (mendiskusikan pesan-pesan tertentu) yang diterima media masa. Bentuk-bentuk forum media yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah: kelompok belajar, kelompok pendengar, dan kelompok pencapir ( kelompok pendengar, pembaca, dan pemirsa televisi).

2.4 Hambatan Komunikasi
Hambatan komunikasi adalah segala sesuatu yang menghalangi atau mengganggu tercapainya komunikasi yang efektif. Hambatan komunikasi dapat mempersulit dalam mengirim pesan yang jelas, mempersulit pemahaman terhadap pesan yang dikirimkan, serta mempersulit dalam memberikan umpan balik yang sesuai.
Secara garis besar, terdapat 4 (empat) jenis hambatan komunikasi yaitu hambatan personal, hambatan fisik, hambatan kultural atau budaya, serta hambatan lingkungan.
2.4.1 Hambatan Personal
Hambatan personal merupakan hambatan yang terjadi pada peserta komunikasi, baik komunikator maupun komunikan/komunikate. Hambatan personal dalam komunikasi meliputi sikap, emosi, stereotyping, prasangka, bias, dan lain-lain.
2.4.2 Hambatan Kultur dan Budaya
Komunikasi yang kita lakukan dengan orang yang memiliki kebudayaan dan latar belakang yang berbeda mengandung arti bahwa kita harus memahami perbedaan dalam hal nilai-nilai, kepercayaan, dan sikap yang dipegang oleh orang lain.
Hambatan kultural atau budaya mencakup bahasa, kepercayan dan keyakinan. Hambatan bahasa terjadi ketika orang yang berkomunikasi tidak menggunakan bahasa yang sama, atau tidak memiliki tingkat kemampuan berbahasa yang sama.
Hambatan juga dapat terjadi ketika kita menggunakan tingkat berbahasa yang tidak sesuai atau ketika kita menggunakan jargon atau bahasa “slang” atau “prokem” atau “alay” yang tidak dipahami oleh satu atau lebih orang yang diajak berkomunikasi.
Hal lain yang turut memberikan kontribusi terjadinya hambatan bahasa adalah situasi dimana percakapan terjadi dan bidang pengalaman ataupun kerangka referensi yang dimiliki oleh peserta komunikasi mengenai hal yang menjadi topik pembicaraan.
2.4.3 Hambatan Fisik
Beberapa gangguan fisik dapat mempengaruhi efektivitas komunikasi. Hambatan fisik komunikasi mencakup panggilan telepon, jarak antar individu, dan radio. Hambatan fisik ini pada umumnya dapat diatasi.
2.4.4 Hambatan Lingkungan
Tidak semua hambatan komunikasi disebabkan oleh manusia sebagai peserta komunikasi. Terdapat beberapa faktor lingkungan yang turut mempengaruhi proses komunikasi yang efektif. Pesan yang disampaikan oleh komunikator dapat mengalami rintangan yang dipicu oleh faktor lingkungan yaitu latar belakang fisik atau situasi dimana komunikasi terjadi. Hambatan lingkungan ini mencakup tingkat aktifitas, tingkat kenyamanan, gangguan, serta waktu.
2.5 Peningkatan Efektifitas  Komunikasi
Efektivitas merupakan suatu keadaan yang menunjukkan tingkat keberhasilan atau kegagalan kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan. Sedangkan komunikasi adalah sebagai proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan akibat tertentu.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Efektivitas Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan yang mampu mencapai tujuan dari isi pesan tersebut dan memberikan umpan balik (feed back) atau reaksi sehingga pesan pun berhasil tersampaikan dan menimbulkan sebuah komunikasi yang efektif.
Menurut Suranto (2010), sebuah komunikasi yang efektif membutuhkan kontak mata, ekspresi wajah, gerak gerik tubuh dan penampilan fisik eksternal.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Komunikasi merupakan suatu proses yang mempunyai komponen dasar sebagai berikut: pengirim pesan, pesan dan penerima pesan. Proses komunikasi dimulai dengan adanya pengiriman pesan yang mempunyai ide untuk disampaikan kepada seseorang agar dapat dipahami sesuai yang ia sampaikan. Pesan yang disampaikan bisa secara verbal maupun non verbal. Pesan yang disampaikan selanjutnya diterima oleh indera, diterjemahkan atau diartikan oleh si penerima pesan agar dapat dipahami olehnya. Namun tidak semua pesan dapat diterima dengan baik. Ada hambatan hambatan berupa hambatan personal, kultur dan budaya, fisik serta lingkungan. 
3.2 Saran
Dalam penyusunan makalah Kecakapan Antar Personal ini masih terdapat banyak kesalahan. Untuk menyempurnakan pembuatan makalah, kedepannya kami mengharapkan adanya saran dari semua pihak yang membaca makalah Kacakapan Antar Personal ini demi perbaikan penulisan makalah selanjutnya.









DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi
https://pakarkomunikasi.com/pola-komunikasi-organisasi
https://pengumpul02ilmu.wordpress.com/2012/07/09/saluran-atau-media-komunikasi-pembangunan/
http://digitalmodern.blogspot.co.id/2012/12/efektivitas-komunikasi.html